Para Pemandu, Dunia Banjir Kata dan Penempuh Jalan Sunyi

Para Sokabat merupakan orang-orang yang mementingkan kebutuhan orang lain daripada kepentingan diri sendiri. Bahkan hingga pada taraf yang paling ekstrim; dimana mereka 'menderita', total memberi sampai tidak menyisakan apa-apa untuk diri sendiri. Tindakan mereka yang seperti ini, tentu, ditertawakan oleh orang-orang munafik. Para Sokabat disebut sebagai orang-orang bodoh (Sufaha'). Wong kok, goblok. Sembari menertawakan, begitu kira-kira olok-olok para munafik.

Sikap mulia Para Sokabat dan cemoohan para munafik mengenainya ini terekam dalam, misalnya, Hasyiah Showi 'ala Tafsir Al-Jalalain saat kita membuka tafsir ayat-ayat permulaan surah Al-Baqarah. Tepatnya pada ayat ke-13 surah tersebut. Rupanya ayat tersebut merupakan respon terhadap perilaku para munafik, yakni, terutama, dedengkotnya sendiri, Abdullah bin Ubay bin Salul. 

Sikap mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri sendiri ini, tentu saja, ndak perlu kaget, merupakan sikap yang mulia. Kehidupan para Sokabat merupakan sabana keteladanan. Kanjeng Nabi sendiri menganggap mereka sebagai bintang-bintang di angkasa; dimana kepada siapapun kita mengambil jejaknya, rute ketersesatan dalam perjalanan kehidupan ini menjadi nihil.

Para Sokabat merupakan guru kehidupan. Mereka adalah murid-murid dari guru segala guru, Idola Semesta Muhammad bin Abdillah s.a.w. Dan, salah satu nilai yang mereka wariskan adalah mementingkan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri sendiri.

Saat ini, kita mungkin sama sukar menemukan nilai ini mewujud dalam kehidupan nyata. Dengan penuh ironi, dan pada saat bersamaan, keraguan atas nilai tersebut menjadi tebal dan secara tidak sadar, kita memitoskannya. Bagaimana mungkin ada orang yang mementingkan kepentingan orang lain dan, dalam barometer paling tegas yang diperagakan oleh para Sokabat, melupakan kebutuhan akan diri sendiri? Emang ada? Orang kayak gitu? Nilai itu beneran ada? Ah, mana mungkin. Apalagi bukankah kita ndak boleh mentingin orang lain, sedangkan diri kita sendiri hancur lebur? Ya, kan? 

Meski demikian, kita hendaknya tetap bertahan dengan pemandu hidup kita itu, para bintang di angkasa. Meski juga, kita tahu bahwa kita tidak mampu membendung efek budaya digital yang menggempur habis-habisan cara berpikir kita tentang bagaimana kehidupan sesungguhnya mesti dijalani. Namun dengan keyakinan akan kebenaran nilai tersebut, akan selalu ada celah disana, secercah cahaya, dalam kegelapan goa yang kita huni, dunia hari ini.

Kita mesti menemukan orang-orang yang berpegang teguh dengan jejak para pemandu, bintang-bintang di angkasa. Meski dalam level yang berbeda. Namun merekalah para pemberani, menempuh jalan sunyi. Agar kita yakin, bahwa, dalam dunia banjir kata, akan selalu ada muara makna yang menyegarkan. Para pejalan sunyi. Mereka yang 'goblok' dalam menjalani hidup. Ditertawakan dan penuh olok-olok. Namun mereka teguh bertahan menapaki lintasan. Dan kita, melihatnya dengan mata telanjang. Hingga keyakinan menancap kokoh bahwa beginilah jalan kehidupan yang semestinya. Hingga keraguan mencuat kembali; adakah kita berada di luar lintasan, atau masih adakah sehelai kemungkinan bagi kita untuk menjadi bagian dari mereka yang turun gelanggang. 

Komentar

Postingan Populer