Mapalangit Biru, Kalibrasi Niat dan Gaman Tak Telihat

Pada Mei lalu, tepatnya tanggal 29 Mei 2025, kami berenam menyingsingkan lengan baju kembali. Kali ini, kami harus mendaratkan dengan genap tubuh, pikiran dan hati kami sekaligus di Pos IV Markas Komando Vertical Rescue Indonesia, di Bandung.
Kami ingin belajar. Pasalnya Vertical Rescue Indonesia, yang biasa dikenal dengan VRI sedang menggelar Sekolah Penyelamatan Medan Curam atau Sekolah Vertical Rescue Tingkat 1. Dan, kami ingin belajar. Kami ingin mengikuti sekolah ini, yang kabarnya akan berlangsung selama tiga hari.

Saat hendak berangkat, kami memecahkan diri menjadi dua regu pemberangkatan. Nesting, ketua umum kami, bersama Kabeng dari Mata Alam Cirebon, berangkat lebih pagi menggunakan sepeda motor. Sedangkan saya, Bakar, Siku, Bang Opay dan Bang Rudi sebagai ketua VRI Regional Cirebon yang ikut berangkat bersama kami, memilih menggunakan moda transportasi kendaraan roda empat yang kami pinjam dari saudara dermawan kami. 
Saya, Siku, Bakar dan Bang Opay berangkat bersama dari Sekrtariat Mapalangit Biru di Ciwaringin, Cirebon. Sedangkan Bang Rudi, kita jemput di rumahnya lalu kemudian berangkat bersama menuju Bandung. Kita berangkat saat hari sudah gelap, berharap esok paginya, bisa mengikuti sekolah vertical rescue sejak menit pertama.
Saat melaju keluar dari halaman Taman Langit Mapalangit Biru, Bang Opay, selagi mengemudikan mobil, terlihat bergumam seakan sedang membaca mantra tertentu. Saya yang kebetulan duduk di kursi depan dan mengetahuinya memintanya untuk mengeraskan suara 'mantra' yang dirapalkan.

"Nawaitut ta'alluma li izalatil jahli, lillahi ta'ala..." ucapnya.

Saya menoleh ke kursi belakang, melempar pandangan ke Siku dan Bakar, meminta mereka memberikan perhatian. Kita lalu secara bersama-sama, merapalkan mantra itu dengan nyaring.

Mantra itu seakan sedang membuka tuas semangat dan kesadaran kita bersama, menapaki kaki di atas muka bumi ini kembali, hingga menuju puncak gunung nun jauh di sana tanpa risau akan jalan kembali. Mantra itu mengkalibrasi kembali kesadaran kita, niat kita, bersama; membuat lubang jeda pada arus waktu yang terus melaju dengan angkuh.
Mantra itu seakan sedang mengingatkan kita kembali bahwa segala tindakan hanya akan berarti jika kita sudah mengkalibrasikan niat kita dengan benar sebelum, bahkan, memasuki rimba api sekalipun. Niat, asa, tekad, semangat, daya, upaya, usaha, pikira, harta, benda dan usaha ---akhirnya mampu menemukan tempat yang semestinya, sehormat-hormatnya.

Setelah merapalkan mantra itu bersama, sambil memutar roda kendaraan menyibak angin malam jalanan desa, kami semua terdiam. Sambil dengan bisik mengkalibrasi niat masing-masing. Dengan khidmat, dan nyala semangat, lagi.
Mantra ini, semoga tetap terus lestari di dalam tubuh Mapalangit Biru. Sebab mantra ini memang layak disebut Mantra Mapalangit. Menjalar kedalam kesadaran setiap warganya. Menjadi semacam seni memenangkan pertarungan di detik pertama. Menjadi telaga untuk raup sebentar sebelum melakukan kegiatan dan ikhtiar apapun para warganya. Menjadi ruang sunyi sebelum lumat badai. Menjadi gaman yang tak seorangpun tahu mampu menopang tubuh kita agar tidak roboh. Memompa semangat kita agar terus menyala. Dan akhirnya segala debu di atas permukaan bumi tak ubahnya memang hanyalah debu belaka. 

Komentar

Postingan Populer